Setelah masuk SMP, banyak orang tua mulai merasakan perubahan kebiasaan anak terutama ketika berada di rumah. Anak yang sebelumnya mudah diajak berbicara kini lebih sering diam, lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, atau terlihat cepat lelah sepulang sekolah. Tidak sedikit orang tua yang merasa bingung karena perubahan ini terjadi di lingkungan rumah, tempat interaksi paling intens dengan anak.
Padahal, perubahan kebiasaan anak SMP ketika di rumah umumnya berkaitan dengan proses adaptasi terhadap ritme sekolah yang baru, tuntutan belajar yang lebih besar, serta perkembangan sosial dan emosional di usia remaja awal. Memahami perubahan ini penting agar orang tua tidak salah menyikapi perilaku anak.
Perubahan ini merupakan bagian dari pola perubahan kebiasaan anak di rumah saat memasuki masa remaja.
Anak Terlihat Lebih Lelah Saat di Rumah
Salah satu perubahan paling nyata adalah kondisi fisik anak saat berada di rumah. Jam sekolah di SMP lebih panjang dibanding SD. Anak yang sebelumnya pulang sekitar pukul 11.30–12.00 kini bisa pulang pukul 14.00 bahkan 15.00.
Kelelahan akibat jam sekolah yang lebih panjang paling mudah terlihat ketika anak sudah berada di rumah. Anak cenderung ingin langsung beristirahat, kurang responsif saat diajak bicara, dan mudah tersinggung. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai perubahan sikap, padahal lebih berkaitan dengan adaptasi ritme harian. Perbedaan ini juga dibahas dalam Apa Saja Perbedaan SD dan SMP yang Paling Membuat Anak Kaget?.
Pola Mengerjakan PR di Rumah Mulai Berubah
Di SD, anak terbiasa mengerjakan PR di rumah dengan pendampingan orang tua. Setelah masuk SMP, pola ini sering berubah. Banyak anak justru mengerjakan PR di sekolah, misalnya saat jam istirahat atau sebelum pelajaran dimulai.
Akibatnya, ketika di rumah anak terlihat tidak belajar sama sekali. Hal ini sering memicu konflik karena orang tua menganggap anak lalai. Padahal, pola ini biasanya muncul karena anak masih menyesuaikan diri dengan manajemen waktu, kelelahan sepulang sekolah, serta tuntutan kemandirian yang lebih besar. Perubahan pola ini berkaitan erat dengan Perbedaan Cara Belajar di SD dan SMP yang Sering Tidak Disadari Orang Tua.
Anak Lebih Banyak Menghabiskan Waktu Sendiri di Rumah
Banyak orang tua mulai merasakan anak lebih sering menyendiri di kamar dan mengurangi interaksi dengan keluarga. Anak tampak lebih pendiam atau memilih sibuk dengan aktivitas sendiri.
Pada usia SMP, anak mulai membutuhkan ruang pribadi untuk mengelola emosi dan pikirannya. Perilaku ini tidak selalu berarti anak menjauh dari keluarga. Namun, orang tua tetap perlu menjaga komunikasi agar jarak emosional tidak terbentuk, misalnya dengan menyediakan waktu ngobrol santai tanpa menginterogasi.
Di Rumah, Anak Lebih Banyak Membicarakan Teman daripada Sekolah
Setelah masuk SMP, fokus anak mulai bergeser. Cerita tentang sekolah tidak lagi hanya soal pelajaran, tetapi lebih banyak tentang teman. Anak mulai lebih peduli pada pertemanan, ingin diterima dalam kelompok, dan sebagian mulai tertarik pada lawan jenis.
Perubahan fokus sosial ini wajar pada fase remaja awal. Namun, jika tidak dipahami, sering dianggap sebagai sikap membangkang atau tidak menghargai keluarga. Orang tua perlu menyadari bahwa dunia sosial anak sedang berkembang, dan rumah tetap perlu menjadi tempat yang aman untuk bercerita.
Penggunaan Gadget di Rumah Mulai Sulit Dikontrol
Perubahan kebiasaan anak SMP ketika di rumah sering diikuti dengan meningkatnya penggunaan gadget. Sebagian orang tua memberikan ponsel untuk komunikasi atau hiburan, tetapi tanpa aturan yang jelas, anak bisa menggunakan gadget hingga larut malam.
Di rumah, gadget sering menjadi pelarian anak dari kelelahan sekolah. Jika tidak dikontrol, anak bisa begadang, mengantuk di sekolah, dan sulit fokus saat belajar. Dampak kelelahan ini sering berhubungan dengan penurunan prestasi, sebagaimana dibahas dalam Nilai Anak Turun di Kelas 7, Haruskah Orang Tua Khawatir?.
Perubahan Emosi Lebih Terlihat di Rumah
Orang tua sering melihat anak SMP lebih mudah tersinggung, sensitif terhadap komentar, atau tampak murung sesekali. Perubahan emosi ini biasanya lebih terlihat di rumah karena anak merasa lebih bebas mengekspresikan diri.
Perubahan ini bukan selalu tanda masalah serius, tetapi bagian dari proses pendewasaan. Namun, orang tua tetap perlu peka jika perubahan emosi berlangsung terlalu ekstrem atau berkepanjangan.
Peran Orang Tua Menghadapi Perubahan Kebiasaan di Rumah
Menghadapi perubahan kebiasaan anak SMP ketika di rumah membutuhkan pendekatan yang berbeda dari saat anak masih SD. Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
- memberi waktu anak beristirahat setelah pulang sekolah,
- menjaga komunikasi terbuka tanpa menghakimi,
- menetapkan aturan gadget yang jelas dan konsisten,
- membantu anak mengatur waktu belajar secara bertahap.
Pendekatan yang tenang dan konsisten membantu anak merasa didukung selama masa adaptasi.
Kapan Orang Tua Perlu Lebih Waspada
Perubahan kebiasaan di rumah umumnya wajar. Namun, orang tua perlu lebih waspada jika perubahan tersebut disertai dengan:
- penolakan berangkat sekolah,
- penurunan nilai yang terus berlanjut,
- perubahan emosi yang sangat ekstrem,
- menarik diri secara sosial dalam waktu lama.
Dalam kondisi seperti ini, orang tua dapat mempertimbangkan berdiskusi dengan wali kelas atau guru BK untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif.
Kesimpulan
Perubahan kebiasaan anak SMP ketika di rumah bukan tanda anak bermasalah, melainkan sinyal bahwa anak sedang beradaptasi dengan fase baru kehidupannya. Jam sekolah yang lebih panjang, pola belajar baru, serta perubahan sosial dan emosional memengaruhi cara anak bersikap di rumah.
Dengan memahami perubahan ini dari sudut pandang rumah dan keluarga, orang tua dapat mendampingi anak dengan lebih empatik dan efektif, sehingga masa transisi ke SMP dapat dilalui dengan lebih sehat.